Perancang Pun Gali Budaya Lokal
Pilihan Warna dan Desain Tampilkan Karakter Pemakai
Bandung, Kompas – Kreasi busana muslim seperti tak ada habisnya. Tren tak hanya dalam soal model dan warna, tetapi juga mengakomodasi berbagai karakter pemakainya. Kreasi yang menonjol untuk tahun ini dan tahun depan terinspirasi oleh budaya lokal.
Menjelang dan pada bulan Ramadhan, pergelaran dan pameran busana muslim dilaksanakan di berbagai tempat. Sebagian besar dihadiri para perempuan berjilbab.
Mereka kini makin menyadari pentingnya mode untuk menunjang penampilannya agar berkesan rapi, bersih, dan menampilkan karakter diri yang sesungguhnya.
Perancang Iva Lativah mengingat masa-masa 1970-an. Saat itu ayahnya menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Bandung.
“Rumah kami sering kedatangan tamu yang sebagian besar mahasiswa dan pelajar. Mereka datang mengeluh sampai menangis karena dilarang menggunakan jilbab oleh institusi tempat mereka belajar,” ujar Iva di Bandung.
Meskipun saat itu orang berjilbab masih sedikit, Iva mengaku sudah bertekad ingin menolong perempuan yang ingin menutup seluruh auratnya itu.
“Saya bersyukur tak ada lagi yang melarang orang berjilbab. Malah pengguna jilbab makin banyak,” kata Iva, yang banyak menggali budaya lokal untuk rancangannya, antara lain menggunakan tenun khas Garut.
Tahun ini, untuk busana muslim anak-anak dan remaja, Iva terinspirasi angklung. Sementara untuk dewasa, ia menghadirkan batik yang dipadu dengan bordir.
Perancang Ernie Kosasih mengatakan, awal 1990 ia merasa geregetan melihat perempuan berkerudung. Mereka tampil kusam karena tak ada banyak referensi tentang busana muslim.
“Umumnya warna-warna bajunya redup dan modelnya hanya tunik. Saya pikir seharusnya bisa mendapatkan pilihan yang lebih baik,” ujar Ernie, beberapa waktu lalu.
Itu sebabnya, hingga kini Ernie bergerak mendesain busana muslim untuk berbagai kalangan dengan harga rancangan ratusan ribu rupiah hingga sekitar Rp 5 juta.
Ning Zulkarnain, perancang lainnya, yang memiliki banyak klien keluarga dokter, hanya mematok harga ratusan ribu untuk tiap rancangannya. “Orang berpikir dokter selalu menggunakan baju mahal. Padahal, mereka ingin baju murah dengan kualitas yang baik,” kata Ning, yang menggali alam laut Jawa Barat sebagai obyek lukis dalam kain lukisnya.
Sementara Nuniek Mawardi mencoba menggabungkan batik berbahan katun dengan bahan mewah. Tahun ini ia menggali wayang golek dengan warna khas Cirebon.
Pakaian muslim kini juga menawarkan berbagai warna dan model sehingga bisa menjadi pilihan orang dengan berbagai karakter. Perancang La Viana, misalnya, merancang busana bertema “Classical Ethnic” menggunakan warna-warna perak.
Perancang Dwi Endang memadukan pakaian bertema “Katumbiri” atau pelangi dengan jins.
Sementara Meeta Fauzan menghadirkan busana bertema “Gemulai Anjasmara” yang feminin. Hal yang sama dilakukan Firna Hasya yang menggunakan material sutra.
Rancangan glamor dipersembahkan Herman Nuary yang mengeksplorasi gaya 1970-an dengan sentuhan bordir di atas bahan sifon dan sutra.
Perancang busana lainnya, seperti Toera Imara, Tuti Kautsar, Hennie Noeraini, Ani Medina, Fenny Sofia, Joko Aditya, dan Yanna Diah Kusumawati, menggali budaya lokal Jawa Barat. (Ynt)